Skip to main content

Memori


M E M O R I


(Doc: pinterest)



.“Bila tak ada lagi percaya, jangan dulu buru – buru mundur, kita bisa merajut kenangan, memutar ingatan pada masa silam”
aku percaya kau akan baik- baik saja.
Sekarang ku mantapkan langkah menuju jalan pulang, mandi air panas, biar besok aku siap menjalani hari – hari tanpamu. Mataku tertuju  pada sebuah potret yang terbingkai rapi diatas meja, aku setengah tertawa mengingat kejadian hari itu.
Ketika aku memaksamu untuk wefie, kau bilang begini “Kita gak boleh sering – sering wefie, karena kita kan ketemu setiap hari, kita bisa pandang -  pandangan sepuas -puasnya” sekarang mungkin kau akan  mengerti bahwa foto berdua itu memang perlu, apaagi ketika saat seperti ini tiba.
Oh iya, aku baru saja selesai memasak indomie telur kornet, makanan kesukaanmu kala itu, nanti ketika kau pulang dan waktu masih milik kita, aku pasti akan buatkan lagi, persis seperti kesukaanmu.
Kenapa kau belum berkabar.
Hujan sedang nakal hari ini, membuat rasa khawatirku makin  dalam saja, bagaimana mungkin bulir – bulirnya menggambarkan sosok dirimu, ah. Aku menatap jauh keluar jendela, dimana hujan mungkin lebih baik daripada terik yang mungkin akan membakar rinduku.   
Mulai hari ini, aku harus banyak belajar hal – hal baru, seperti katamu aku harus siap memulai interaksi dengan orang – orang baru, mengesampingkan sedikit egoku, tapi kau tahu bukan, aku bukan orang yang akan dengan mudah melakukan itu semua, apalagi bertemu dan memulai interaksi dengan orang – orang baru, hmm.
“aku sudah sampai, aku  baik – baik saja, selamat malam kekasih.”
Persis seperti kataku, kau akan baik –baik saja bukan. Aku menatap layar terlalu lama, hingga tak tahu apa yang harus kujawab setelahnya, aneh ya, dibalik layar ponsel kita sama – sama kebingungan, entah kenapa iklimnya jadi terasa kaku, aku hanya takut apakah ini awal dari dimana orang – orang jarang berkomunikasi karena jarak, karena mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan saking  senangnya mendapat kabar dari orang terkasih, ahh aku  harus buang pikiran itu jauh – jauh.
“Jaga diri disana, dan selamat istirahat”
Setelah berpikir panjang hanya itu yang mampu kuketikkan, aku tidak bisa meluapkan rasa bahagia hanya melalui teks.
Semoga ke-kakuan dari masing – masing kita  tidak menjadi pengahambat, agar waktu terus berpihak pada kita.
Ketika nanti sama – sama kita jumpai kejenuhan, ingatlah  bagaimana awal mula kita menciptakan rasa yang sama.
Ketika nanti saatnya kita temui perdebatan panjang dan tak kunjung menemui jalan terang, ingatlah hanya ada satu hal yang perlu kita lakukan, meng-eratkan pelukan untuk sama – sama bertahan.
Agar kita tetap ada.


NB: Jangan lupa baca dulu di blog Iksan Bae yaa..

Comments