M E M O R I
. “Bila tak ada lagi percaya, jangan dulu buru – buru mundur, kita bisa merajut kenangan, memutar ingatan pada masa silam”
aku percaya kau akan baik- baik
saja.
Sekarang
ku mantapkan langkah menuju jalan pulang, mandi air panas, biar besok aku siap
menjalani hari – hari tanpamu. Mataku tertuju
pada sebuah potret yang terbingkai rapi diatas meja, aku setengah
tertawa mengingat kejadian hari itu.
Ketika
aku memaksamu untuk wefie, kau bilang begini “Kita gak boleh sering – sering
wefie, karena kita kan ketemu setiap hari, kita bisa pandang - pandangan sepuas -puasnya” sekarang mungkin
kau akan mengerti bahwa foto berdua itu
memang perlu, apaagi ketika saat seperti ini tiba.
Oh
iya, aku baru saja selesai memasak indomie telur kornet, makanan kesukaanmu
kala itu, nanti ketika kau pulang dan waktu masih milik kita, aku pasti akan
buatkan lagi, persis seperti kesukaanmu.
Kenapa kau belum berkabar.
Hujan
sedang nakal hari ini, membuat rasa khawatirku makin dalam saja, bagaimana mungkin bulir –
bulirnya menggambarkan sosok dirimu, ah. Aku menatap jauh keluar jendela,
dimana hujan mungkin lebih baik daripada terik yang mungkin akan membakar
rinduku.
Mulai
hari ini, aku harus banyak belajar hal – hal baru, seperti katamu aku harus
siap memulai interaksi dengan orang – orang baru, mengesampingkan sedikit
egoku, tapi kau tahu bukan, aku bukan orang yang akan dengan mudah melakukan
itu semua, apalagi bertemu dan memulai interaksi dengan orang – orang baru,
hmm.
“aku sudah sampai, aku baik – baik saja, selamat malam kekasih.”
Persis
seperti kataku, kau akan baik –baik saja bukan. Aku menatap layar terlalu lama,
hingga tak tahu apa yang harus kujawab setelahnya, aneh ya, dibalik layar
ponsel kita sama – sama kebingungan, entah kenapa iklimnya jadi terasa kaku,
aku hanya takut apakah ini awal dari dimana orang – orang jarang berkomunikasi
karena jarak, karena mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan saking senangnya mendapat kabar dari orang terkasih,
ahh aku harus buang pikiran itu jauh –
jauh.
“Jaga diri disana, dan selamat
istirahat”
Setelah
berpikir panjang hanya itu yang mampu kuketikkan, aku tidak bisa meluapkan rasa
bahagia hanya melalui teks.
Semoga ke-kakuan dari masing –
masing kita tidak menjadi pengahambat,
agar waktu terus berpihak pada kita.
Ketika nanti sama – sama kita
jumpai kejenuhan, ingatlah bagaimana
awal mula kita menciptakan rasa yang sama.
Ketika nanti saatnya kita temui
perdebatan panjang dan tak kunjung menemui jalan terang, ingatlah hanya ada
satu hal yang perlu kita lakukan, meng-eratkan pelukan untuk sama – sama
bertahan.
Agar
kita tetap ada.
NB: Jangan lupa baca dulu di blog Iksan Bae yaa..

Comments
Post a Comment