Skip to main content

Posts

Kepada Lara

Kelak, kau harus berterimakasih pada lara, yang pernah membuat air matamu melantai, Kepada duka yang pernah membuatmu remuk, kepada tangan yang melepas, Kau harus berterimakasih pada lara, Yang membuatmu patah tak terlihat, Karena untuk berdamai dengan hatimu adalah tugasmu sendiri. Yulia.D

Kafe Langganan

Bagaimana kalau kita sudahi saja semua ini, Semua gelisah yang kita hitung tiap detik, Semua salah yang kita cerca waktu ke waktu, sampai kapan kita berpura - pura Bahwa mencintai tak boleh menyakiti, Bukankah rasa sakit yang hadir atas dasar cinta adalah rasa sakit yang paling nikmat, Kita tinggal datang ke kafe langganan kita, Membawa luka dan kecewa dihadapan secangkir cokelat.  Yulia.D

Resah

Resah kita adalah bagian dari tanda tanya yang belum sempat terjawab Bagian dari kesunyian yang membias ke awan hitam Menciderai luka yang belum sempat kita balut, Resah kita mengalun bersama semilir angin Menuju tempat jauh yang mungkin tak akan lagi kita kunjungi Resah adalah tentang apa yang sengaja kita sembunyikan. -Yulia.D

Musim yang Tak Kita Ketahui

Hati kita adalah tempat paling asing bagi diri kita sendiri, Tempat dimana banyak hal berlalu lalang, bahkan disaat yang lain masih beristirahat, Hati kita adalah tempat yang musim nya tak kita ketahui, terkadang ramai, lalu tiba – tiba sunyi, Dari sekian banyak hal yang tak kita kenali, kita selalu bisa menyelam untuk menemukan apa yang menurut kita berarti, Jauh di palung terdalam, mencari – cari apa yang sebenarnya mungkin saja belum hilang, Bagaimana kalau badai tiba – tiba datang, Dan menyapu semuanya ke daratan, mengalirkan gejolak melalui bola – bola bening diatas pipi, Lalu, hati tetap saja musim yang belum kita ketahui. - Yulia.D

Haruskah Memenangkan Ego

(Doc: google) Semua orang tahu kapan harus berhenti atau tetap melanjutkan apa yang tersisa, dunia memang bukan hanya tentang kita saja, namun ada saat dimana kita merasa bahwa dunia harus  memperhatikan kita, ada saat dimana kita berpikir apa jadinya dunia tanpa kita  didalamnya. senja tak pernah lagi mempunyai rona semenjak kejadian malam itu, kita memilih sama - sama  menyerah, ada sedih yang tak tertahankan dalam tubuh seorang perempuan yang tak lagi sanggup mengeluarkan air mata, entah  karena sakit yang terlalu dalam atau muak yang berlebihan, selalu saja ego dialah yang menang. "hidup adalah tentang diri sendiri bukan"  ia bergumam setelah memutuskan untuk tetap melangkah pergi, meskipun ia tahu ada yang masih menahannya, tapi sekali lagi ego nya selalu menang, dalam kondisi apapun. Setelah itu, tak lagi ada bulan yang temaram (dalam tatapannya), baginya semua sama, tak ada yang benar - benar akan membuatnya sedih, untuk kesekian kali nya...

Memori

M E M O R I (Doc: pinterest) . “Bila tak ada lagi percaya, jangan dulu buru – buru mundur, kita bisa merajut kenangan, memutar ingatan pada masa silam” aku percaya kau akan baik- baik saja. Sekarang ku mantapkan langkah menuju jalan pulang, mandi air panas, biar besok aku siap menjalani hari – hari tanpamu. Mataku tertuju   pada sebuah potret yang terbingkai rapi diatas meja, aku setengah tertawa mengingat kejadian hari itu. Ketika aku memaksamu untuk wefie, kau bilang begini “Kita gak boleh sering – sering wefie, karena kita kan ketemu setiap hari, kita bisa pandang -   pandangan sepuas -puasnya” sekarang mungkin kau akan   mengerti bahwa foto berdua itu memang perlu, apaagi ketika saat seperti ini tiba. Oh iya, aku baru saja selesai memasak indomie telur kornet, makanan kesukaanmu kala itu, nanti ketika kau pulang dan waktu masih milik kita, aku pasti akan buatkan lagi, persis seperti kesukaanmu. Kenapa kau belum berkabar. Hujan sedang nakal ...

JARAK

(Doc : Pinterest) J A R A K          “bagiku, jarak hanya akan menghukum se-siapa yang memang tak kuat.            Namun, yang aku takutkan, saat ragu menghampiri kita,           akankah cerita kita kembali berujung pada temu?” Kota kembali gemerlap seperti biasa, namun  aku masih berdiri disini, di stasiun tempat dimana kulepas kepergianmu tadi pagi, perasaan yang entah berawal dari  mana membuatku merasa tak ingin  hari ini berlalu, aku mengencangkan syal merah yang kau beri dua bulan lalu, aroma dekapan pagi tadi masih melekat jauh dalam ingatanku, begitupun kepergianmu. Bagiku, tak mengapa jika saat seperti ini menghampiri kita, namun sekali lagi aku ingin  menangis sejadi – jadinya dipelukanmu, lalu memintamu  untuk tetap tinggal. Aku memang percaya bahwa jarak akan menguatkan kita, tapi aku tak bisa membayangkan bagaimana rindu  menghukum kita hari dem...